7 Mitos Pernikahan yang Hangat di Masyarakat

Mitos pernikahan di Masyarakat
http://bridestory.com

Segala yang ada di bumi ini Tuhan ciptakan untuk hidup berpasang-pasangan, begitu pula dengan makhluk yang paling sempurna yaitu manusia. Tercipta untuk saling melengkapi satu sama lain. Manusia terlahir dengan sepotong hati, dan sepotong hati yang lainnya mengharuskan setiap orang untuk menemukannya. Ialah Jodoh (pasangan sehidup semati).

Dalam melengkapinya, penyatuan terbaik adalah dengan sebuah ikatan pernikahan (janji suci) ikrar untuk menjalani komitmen dan kehidupan bersama. Pernikahan, ia adalah momentum keindahan, kebersamaan dan tentunya kebahagiaan.

Ini tergambarkan betapa bahagiannya mempelai pasangan pengantin, meriahnya acara resepi yang dijalani, betapa banyaknya undangan yang hadir serta masyarakat yang antusias akan ini, hingga jamuan dan juga doa yang terlantunkan dari setiap insan-insan yang mengenalinya.

Kehidupan barupun dimulia, usai pernikahan. Menapaki kehidupan baru memanglah indah, tapi bukan berarti segala sesuatunya selalu berjalan dengan mudah. Tentunya tidak seindah yang kita bayangkan, apalagi kita hidup di tengah-tengah masyarakat akan terasa sekali warna-warna kehidupan itu.

Di tengah masyarakat banyak sekali perbincangan tentang apapun terkait pernikahan, secara memang pernikahan momen yang tidak akan di lupakan. Perbincangan tersebut mulai dari A-Z ada, setiap kekurangan dan kelebihan dan tentunya tak kalah penting adalah tentang mitos pernikahan.

Ya, mitos pernikahan memang banyak sekali menjadi hal yang selalu diperbincangkan di masyarakat, hingga menjadikannya suatu tren yang turun temurun di masyarakat. Walaupun cuma mitos namun cukup banyak yang terjebak dan akhirnya membenarkan mitos tersebut. Perlu kita sadari sejak awal, “mitos itu kita sendiri yang menciptakan, jadi ciptakanlah mitos terbaikmu”

Di bawah ini ada beberapa mitos pernikahan berdasarkan keyakinan yang beredar di masyarakat, serta mitos-mitos yang ada hubungannya denagn mistis di daerah tertentu di Indoensia yang perlu kamu tahu dan tidak untuk kamu percayai.

1. Wanita Berpendidikan Tinggi Akan Sulit Mencari Pasangan

Benarkah, seorang wanita yang memiliki pendidikan yang terlalu tinggi akan sulit untuk mendapatkan pasangan? Hal ini memang sudah banyak sekali terjadi di masyarakat, tentunya banyak terjadi di kota-kota besar, tapi juga di desa juga ada. Mitos tentang wanita yang jika ia terlalu sibuk dengan pendidikan akan sulit mendapat jodoh.

Secara logika dan fakta memang dapat di benarkan karena banyak sekali seorang wanita yang berpendidikan tinggi akan ianya mencari pasangan yang tentunya pendidikannya setara dengan dia, tapi secara takdir tetap saja tidak bisa.

Karena sebenarnya itu tergantung gengsi, selera atau keinginan tertentu wanita tersebut. Mitos ini walau banyak buktinya tetap saja tidak bisa dibenarkan, karena namanya jodoh itu bukan urusan manusia. Benar kan?

BACAAN MENARIK : Kata-kata Syahdu Seputar Pernikahan

2. Dilangkahi Membuat Seseorang Susah Dapat Jodoh

Di beberapa daerah di Indoensia meyakin bahwa pernikahan bukan hanya tentang faktor kesiapan seseorang, akan tetapi juga berdasarkan”urutan”. Di dalam sebuah keluarga, jika adalah seorang adik yang menikah lebih dulu dari kakaknya, dari kejadian ini muncullah sebuah istilah “Dilangkahi”. Istilah ini dipakai untuk mereka yang didahului adiknya dalam penikahan.

Banyak masyarakat meyakini, tenatng kejadin tersebut seseorang akan sulit untuk menemukan jodohnya. Jika di pahami secara sempit memang benar, buktinya si adik lebih mudah mendaopatkan jodoh karena menikah dahulu. Cobalah berfikir secara rasional dan lebih luas. Jodoh itu ikhtiar dan jika terus berusaha dan berdoa pasti akan dipertemukan.

Ingatlah jodoh itu ikhtiar, meskipun sudah ditentukan, jodoh itu ikhtiar dan jodoh itu pilihan. Karena jika di pelajari lebih dalam, di lauful mahfuz telah tertulis segalanya yang akan terjadi maupun yang tidak terjadi. Dan apa apa saja serta siapa-siapa saja yang bisa-bisa saja menjadi jodoh seseorang.

Jadi jodoh itu adalah ikhtiar, jodoh yang baik akan didapati di lingkungan yang baik dan kehidupan yang baik.

3. Mitos Tanggal Baik Pernikahan

mitos pernikahan
http://adindut.com

Pernikahan bukanlah hanya tentang mempelai laki-laki dan perempuan, akan tetapi pernikahan juga menyatukan kedua belah keluarga dari mempelai laki-laki dan perempuan. Karena salah satunya sahnya pernikahan adalah restu dari sang wali dari pihak perempuan, juga berkahnya sebuah pernikahan juga risgo dan restu dari ibunda mempelai laki-laki.

Oleh karena itu, wajar saja jika tanggal pernikahan tidak selalu menjadi hak preogratif kedua mempelai pengantin. Keluarga besar dari kedua belah pihak terutama wali dari masing-masing mempelai ikut andil dalam penentuan tanggal pernikahan. Berkumpul dan berdiskusi soal tanggal yang baik, tidak hanya sampai disitu, biasanya keterlibatan orang ‘yang dituakan’ di dalam masyarakat untuk penentuan tanggal ini.

Disebagian besar masyarakat kita, ada hal yang cukup berlebihan ketika menentukan tanggal yang baik, sebagian masyarakat masih ada yang meyakini bahwa tanggal baik ini jika tidak dijalani akan menimbulkan hal yang tidak baik yang bisa mengarahkan keyakinan yang hak (dalam islam tauhid kepada Allah). Ini yang perlu kita luruskan, anggapan jika tidak melaksanakan ditanggal yang baik akan ada malapetakan atau gangguan dari pihak lain yang dimana menimbulkan ketakutan.

Sebenarnya, tidak ada salahnya jika meminta pertimbangan kepada seseorang yang dituakan di desa (seperti kepala desa atau modin). Dengan tujuan sebagai undangan serta restu sebagai penghormatan kepada pemimpin desa. Perlu diingat, keputusan utama tetaplah di tangan keluarga pihak mempelai, dan yang paling penting tidak ada hubungannya dengan bala’ / musibah / malapetakan dan sebagainya.

Di sebagian masyarakat Indonesia, tanggal pernikahan tidak selalu menjadi hak preogratif kedua mempelai pengantin. Keluarga besar dari kedua pihak akan berkumpul & berdiskusi soal tanggal yang baik. tak cukup sampai di situ, biasanya akan dilibatkan juga ‘orang yang dituakan’ di dalam masyarakat atau keluarga yang akan menentukan ‘tanggal dan juga hari baik’ untuk melangsungkan resepsi pernikahan.

4. Mitos Bahwa Pernikahan Banyak Menguntungkan Pria

Seorang pria tentu akan menjadi banyak perbincangan di masyarakat juga, walau kadarnya memang tidak sebanyak dari pembicaraan tentang wanita. Mitos pernikahan mempelai pria tentang banyaknya ia diuntungkan memang sesekali terjadi, walaupun pria tetaplah yang bertanggung jawab atas semuanya.

Salah satu contoh mitos yang paling santer adalah pria enak karena tidak melahirkan anak, pria enak tinggal kerja cari duit, pulang dilayani full oleh wanita. Ini mitos yang salah dan memang harus dibuktikan benarnya.

Seorang pria walaupun tidak melahirkan anak bukan berati hidupnya enak, pria bertanggung jawab besar atas semua kebutuhan keluarga selamanya, pria juga harus membimbing keluarga sampai di akhir hayatnya. Serta pria yang akan menanggung dosa jika kelurganya berjalan diatas kedurhakaan kepada Tuhan. Ini bukan tugas mudah lho, tanggung jawab yang amat begitu besar.

5. Mitos Pernikahan bahwa Wanita Beresiko Mengalami Kekerasan Fisik

Pria memanglah pemimpin di dalam sebuah rumah tangga, pria yang bertanggung jawab semuanya akan tetapi bukan berarti pria boleh berlaku semena-mena. Pria memang identik dengan kekerasan tetapi tidak semua pria seperti itu, jika memang ada suatu kejadian tentang kekerasan fisik kepada wanita hal itu merupakan sebagian kecil dari rumah tangga yang gagal (terkadang sebagian kecil yang buruk ini banyak dibesar-besarkan sehingga banyak diyakini masyarakat).

Seperti berita tentang kekerasan rumah tangga yang sering di beritakan di televisi memang cukup membuat paradigma masyarakat berubah dan menjadi mitos bahwa wanita beresiko mendapat kekerasan. Mulai saat ini, kita harus menjaga hati dan akal dari berita-berita negatif, seperti berita-berita yang ada di layar televisi yang memberitakan salah satunya adalah kekerasan rumah tangga.

BACA JUGA : Hal Yang Perlu Kamu Persiapkan Dalam Menjalani Bahtera Rumah Tangga

Kethauilah, padahal di luar sana banyak sekali pria yang lembut, yang santun dan baik pada istrinya. Jadi mitos seperti ini tidak benar sekali.

6. Tingkat Kepuasan Seks yang Rendah Dibanding Saat Single

ingin segera bertemu
anugerahilya.blogspot.com

Ini mitos yang cukup mengada-ada, bagaimana tidak ? bagaimana mungkin tingkat kepuasan berhubungan badan akan lebih rendah ketika telah menikah. Yang benar semestinya pasti malah bertambah. Karena kita tahu bahwa pernikahan sah itu melegalkan hubungan badan dan bisa dilakukan dengan pasangan sah.

Coba saja kalau masih single, tentu adanya cuma angan-angan kosong atau dengan pasangan yang belum sah, kalaupun dengan alasan sensasinya yang berbeda ini hanyalah kepuasan hasrat saja dan tidak ada hubungannya dengan kepuasan seks.

BACA JUGA : Misteri Kenapa Cincin Pernikahan Selalu Di Jari Manis

Seks dan hasrat adalah sisi yang berbeda, belum tentu jika hasrat tinggi kepuasan akan tinggi pula dan juga sebaliknya.

7. Anggapan tentang Anak Adalah Beban

Tentang hal ini tentu menjadi sebuah fakta yang banyak terjadi di masyarakat, banyak sekali para orang tua yang bekerja keras banting tulang untuk mencukupi kebutuhan anak. Tidak hanya itu, banyak juga keresahan orang tua akan anaknya yang nakal, serta sering kali membuat orang tua stres.

Fenomena ini menciptakan paradigma dan mitos terjadi di masyarakat, bahwa anak dianggap beban hidup dan menjadi tanggungan berat selama hidup. Seolah-olah si anak menjadi korban yang harus disalahkan.

Padahal jika diruntut dari awal, cermati dengan baik bahwa anak itu hasil hubungan orang tua, hasil cinta dan kasih orang tua. Jadi anak tidak bisa untuk disalahkan, lagi pula anak adalah karunia yang indah, amanah serta berkah dan tentunya pelengkap kebahagiaan keluarga. Sekali lagi mitos ini salah besar.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari informasi ini, serta lebih bisa berfikir jernih serta menguatkan iman kita kepada Sang Pencipta Semesta. Sekian.

Leave a Comment