Resepsi Pernikahan Menurut Islam dari A – Z

Resepsi Pernikahan Menurut Islam – Di dalam agama apapun, menikah merupakan prosesi sakral; peristiwa agung; perjanjian berat bagi setiap individu. Di dalam agama Islam secara khusus, pernikahan menjadi suatu hal yang digambarkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an sebagai mitsaqan ghaliza, yang mana kata tersebut hanya diulang beberapa kali saja di Al-Qur’an.

Mitsaqan Ghaliza berarti pernjanjian yang kokoh. Disebut tiga kali di Al-Qur’an.

  1. Perjanjian Allah dengan para Nabi (Nuh as., Ibrahim as., Musa as., Isa as., dan Muhammad saw.) di QS. Al-Ahzab ayat 7.
  2. Perjanjian Allah dengan Bani Israil yang Allah hendak menimpakan Bukit Thursina kepada mereka di QS. An-Nisa ayat 154.
  3. Tentang pernikahan di QS. An-Nisa ayat 21

Maka, secara hakikat, boleh dibilang menikah itu setara dengan perjanjian Allah dan para Nabi dalam menyebarkan agama Tauhid, juga terranalogikan seperti memindahkan beban seberat gunung Thur dari pundak ayah calon perempuan, ke pundak calon lelaki. Begitu berat.

Ada sebuah sunnah di dalam menikah, namanya walimatul ‘ursy. Resepsi pernikahan. Islam sendiri memandang resepsi bukan sebagai bentuk hura-hura apalagi pesta pora. Bukan.

Tetapi, resepsi pernikahan dimaksudkan untuk tahadits binni’mat; sebagai tanda syukur kepada Allah swt. sekaligus mengumumkan pada khalayak bahwa telah sah sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan yang berakad; telah halal apa yang tadinya diharamkan.

Islam adalah sistem kehidupan. Ianya mengatur hal-hal yang remeh temeh seperti mengurus kuku dan jenggot, sampai ke hal besar seperti mengurus keluarga, bahkan negara.

Maka, ada bab-bab khusus mengenai resepsi pernikahan yang dibahas. Berikut beberapa di antara hal yang harus kamu perhatikan bila ingin mengadakan resepsi pernikahan yang tidak hanya meriah, tetapi juga berkah; tidak hanya hebat, tetapi juga selamat.


1. Membetulkan Niat Agar Selamat


walimatul 'ursy
thebigfatindianwedding.com

Resepsi pernikahan, yang merupakan tindak lanjut dari perjanjian suci dan berat, haruslah dilandasi oleh niat yang tidak cacat. Hanya untuk Allah saja.

Sesuatu yang diniatkan hanya untuk Allah akan berbuah pahala dan menjadi amal shaleh. Bekal paling utama manusia di alam dunia sebelum kembali ke haribaan Sang Raja Diraja. Allah.

Sebagai pembuktian, resepsi pernikahan yang diselenggarakan haruslah sesuai sunnah atau paling tidak … tidak menabrak batas-batas syar’I yang telah dirambu-rambukan oleh agama.

Mungkin memang, mengadakan resepsi pernikahan dengan pernak-pernik ‘kekinian’ lebih mewah dan meriah, tapi pertanyaannya … apa Allah suka?

Baca juga: Mitos-mitos Tentang Pernikahan di Tengah Masyarakat

Betulkan niat, agar selamat.


2. Menyediakan dan Membuat Hidangan Sesuai Kemampuan


resepsi pernikahan menurut islam bagaimana
fimadani.com

Esensi dari resepsi pernikahan adalah rasa syukur yang tak terhingga pada Allah swt. yang telah memberikan Surga sebelum Surga di dunia. Oleh karena itu, tidak elok kiranya jika bentuk syukur yang kita panjatkan malah melanggar apa-apa yang Dia tidak sukai. Apa itu? Berlebih-lebihan.

Adakanlah resepsi pernikahan sesuai dengan kemampuan kita. Tidak perlu meminjam uang; berutang hanya demi memenuhi perut tamu undangan dengan hidangan-hidangan yang spesial. Sebagai gantinya, berikan senyum paling tulus untuk mereka. Jamu mereka dengan akhlak yang baik. Niscaya resepsi pernikahan tersebut akan lebih terkenang.

Rasulullah pernah berkata pada sahabatnya yang kaya raya tidak alang kepalang, Abdurrahman bin Auf,

“Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.” (HR. Abu Daud)

Salah satu contoh kesederhanaan Rasulullah saw. dalam melaksanakan resepsi pernah direkam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra.

Ia berkata,

“Aku melihat Rasulullah saw. mengadakan walimah untuk Zainab yang tidak pernah diadakan untuk istri-istri beliau yang lain. Beliau menyembelih seekor kambing.”

Dan bahkan, pada saat resepsi pernikahan Rasulullah saw. dengan Shafiyyah bint Huyay, beliau tidak menyembelih apapun. Di dalam acara tersebut, para tamu undangan hanya disuguhi kurma kering, minyak samin, dan gandum; bukan roti dan daging.

Sederhana. Tidak memaksa-maksakan diri.


3. Tidak Pilih-pilih Tamu Undangan


undangan pernikahan unik
satujam.com

Di dalam hadits riwayat Ibn Majah Rasulullah saw. bersabda, “Umumkan pernikahan.” yang berarti undanglah orang-orang untuk datang ke walimatul ‘ursy / resepsi pernikahan.

Di waktu yang lain, Rasulullah saw. mewanti-wanti kita agar jangan hanya mengudang orang-orang kaya saja, tetapi juga orang yang miskin dan fakir.

Rasulullah saw. bersabda,

“Seburuk-buruknya hidangan adalah makanan walimah, yang diundang untuk menghadirinya hanyalah orang-orang kaya sedangkan orang-orang fakir tidak diundang.” (HR. Bukhari & Muslim)


4. Tidak belebihan


resepsi pernikahan sederhana islami
pinterest.com

Secara singkat telah kami paparkan di atas mengenai kesederhanaan dalam membuat jamuan untuk tamu; hal ini agar kita tidak termasuk orang yang berlebihan dalam segala sesuatu. Kenapa? Karena Allah tidak suka yang berlebih-lebihan.

Allah swt. berfirman di dalam surat al-‘Araf,

“Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Kita sebagai seorang muslim wajib sami’an wa tha’atan ketika ada sebuah perintah yang redaksinya jelas dalam Al-Quran. Maka, sederhanakanlah resepsi pernikahan agar pernikahan diberkahi oleh Allah swt.

Baca juga: Desain Panggung untuk Dekorasi Pernikahan Cantik

Mungkin memang, beberapa orang yang menggelar resepsi pernikahan mewah karena kelebihan materi, tapi alangkah lebih bijak bila materi tersebut dibelanjakan untuk ‘membeli’ keridhaan Allah dengan cara menyedekahkannya sembari meminta penuh harap agar rumah tangga yang dibangun menjadi sebaik-baik rumah tangga dan senantiasa dikucuri nikmat.


5. Memisahkan Tamu Lelaki dan Perempuan


konsep pernikahan syar'i
kumpulankonsultasi.com

Syari’at menganjurkan untuk memisahkan tamu undangan laki-laki dan perempuan. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya ikhtilat, yaitu pencampuran lawan jenis.

Pencampuran lawan jenis ini biasa membuka pintu setan, sebab dengan bercampurnya antara laki-laki dan perempuan pintu zina mata terbuka.

Seminimal-minimalnya, meskipun tidak memakai hijab atau penghalang, tempat duduk khusus pria dan tempat duduk khusus perempuan harus dipisahkan. Bisa dengan memberi tanda. ‘Tempat duduk khusus laki-laki‘ atau ‘Tempat duduk khusus perempuan‘.


6. Tidak Mengisi Resepsi dengan Perkara Mungkar (Maksiat)


maher zain nasyid
metrolyric.com

Bila kamu akan mengadakan resepsi pernikahan, pastikan bahwa acara-acara yang digelar di resepsi tersebut Allah ridhai. Acuannya itu: Allah ridha. Bukan meriah atau tidak.

Tidak lucu kalau acara resepsi pernikahan dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an diakhiri dengan dangdut saweran, kan?

Bila pun ingin memakai musik, pastikan musik-musik itu adalah musik positif. Nasyid misalnya. Pokoknya yang liriknya tidak menjauhkan kita dari Allah swt. (bahkan malah harus mendekatkan pada Allah swt., mengingat dosa kita yang banyak, dll.)


7. Sebaiknya Resepsi Pernikahan Dilaksanakan Setelah Dukhul


erniderbi.wordpress.com

Sebetulnya ulama madzhab sudah banyak bersepakat tentang hal ini. Bahwa, resepsi pernikahan itu sunnah dilaksanakan setelah dukhul atau pencampuran antara suami-istri. Bukan sebelumnya, seperti yang biasa dilakukan di Indonesia.

Baca juga: Destinasi Bulan Madu Paling Romantis Buat Kamu dan Pasanganmu

Memang bukan menjadi soal yang besar, tetapi alangkah lebih baiknya jika kita mengikuti sunnah. Dan bila pun tidak, dengan mengadakan resepsi / walimatul ‘ursy kita pun sudah melaksanakan sunnah. In syaa Allah.


8. Orang yang Diundang Wajib Mendatangi Undangan Pernikahan, Kecuali Ada Uzur Syar’i


karpetbasah.blogspot.com

Poin-poin di atas tadi menjelaskan bagaimana resepsi pernikahan sebaiknya diadakan, yang itu berarti menjadi bahan pikiran pembuat acara resepsi / walimah. Nah, poin ke-8 ini ditujukan untuk orang-orang yang diundang ke acara resepsi pernikahan.

Wajib hukumnya untuk kita mendatangi resepsi pernikahan bila diundang. Sebab Rasulullah saw. pernah bersabda,

“Apabila salah seorang dari kalian diundang ke walimah, hendaklah ia mendatanginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian, Islam juga mengajarkan adab-adab dan doa untuk mempelai yang sedang menikmati hari bahagianya. Doa yang diajarkan oleh Rasulullah bukan, “Semoga bahagia dan banyak anak.” Tetapi,

“Barakallahu laka, wabaraka ‘alayk wa jama’a baynakuma fi khayr”

Artinya: Semoga Allah memberkahi kalian berdua dan mengumpulkan kalian berdua di dalam kebaikan. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah)

Wallahu a’lam

Leave a Comment